Monthly Archives:August 2015

Byadmin

SURAT KEPUTUSAN KETUA STKIP MPL Tentang TATA TERTIB MAHASISWA STKIP MPL

SURAT KEPUTUSAN

KETUA STKIP MPL

Nomor  : 073/KEP./II.3/AU/F/2014

Tentang

TATA TERTIB MAHASISWA  STKIP MPL

Bissmillahirrahmanirrahim

Ketua STKIP MPL

Menimbang  :

  1. Bahwa untuk menyiapkan peserta didik menjadi sarjana muslim, yang mempunyai kemampuan akademik dan/atau professional dan beramal menuju terwujudnya masyarakat utama adil dan makmur yang diridhoi oleh Allah SWT, perlu Tata Tertib.
  2. Bahwa untuk memenuhi maksud tersebut, dipandang perlu untuk menetapkan tata tertib mahasiswa STKIP MPL,

Mengingat  :

  • Undang–Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003
  • Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 1999
  • Surat Keputusan Mendiknas Nomor : 184/U/2001.
  • Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah.
  • Qaidah Perguruan Tinggi Muhammadiyah.
  • Statuta STKIP MPL.
  • Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah No.47 /KEP./I.O/D/2013

 

MEMUTUSKAN

Menetapkan  :

SURAT KEPUTUSAN

KETUA STKIP MPL TENTANG TATA TERTIB MAHASISWA

STKIP MPL

 

Pasal  1

TATA TERTIB AKADEMIK

  1. Mahasiswa diwajibkan :
    1. Menaati peraturan akademik yang berlaku;
    2. Mengembangkan sikap dan perilaku ilmiah;
    3. Mengikuti kuliah, praktikum dan tugas-tugas akademik lainnya.
    4. Dengan dipimpin dosen atau tidak, mengawali kuliah dan kegiatan akademik lainnya, dengan membaca basmalah dan diakhiri membaca hamdalah.
    5. Menggunakan kebebasan akademik secara bertanggung jawab sesuai dengan norma dan susila yang berlaku melalui prosedur yang telah ditetapkan;
    6. Dalam mengikuti kegiatan kuliah antara putra dan putri menempatkan diri pada tempat duduk dalam deretan yang terpisah.
  2. Mahasiswa dilarang :
    1. Terlambat masuk kuliah dan/atau meninggalkan kuliah sebelum berakhir tanpa izin/pemberitahuan.
    2. Berbuat curang dalam ujian dan tugas-tugas akademik lainnya.
    3. Merokok di ruang kelas, ruang praktikum dan ruang kantor.

 

Pasal  2

TATA TERTIB PENAMPILAN

 

  1. Mahasiswa diwajibkan :
    1. Berbusana Islami, rapi, sopan dan menutup aurat.
    2. Bertata rias rapi, sopan, tidak mencolok dan tidak berlebihan.
    3. Berpakaian rapi dan bersepatu.
  2. Mahasiswa dilarang :
    1. Memakai kaos oblong, dan atau celana dengan lutut terbuka.
    2. Memakai aksesoris yang tidak semestinya (misalnya, laki-laki menggunakan asesoris khusus perempuan).
    3. Memelihara rambut panjang melebihi bahu (bagi laki-laki).
    4. Memakai sandal, dalam ruang kuliah atau memasuki kantor.

 

Pasal  3

TATA TERTIB PERGAULAN

 

  1. Mahasiswa diwajibkan :
    1. Mengembangkan tata pergaulan yang Islami.
    2. Menggunakan salam dalam pergaulan
    3. Bertutur kata, bersikap dan bertingkah laku harus sopan dan Islami.
    4. Bersikap dan berperilaku hormat kepada pimpinan, dosen, karyawan dan sesama mahasiswa.

 

  1. Mahasiswa dilarang :
    1. Berduaan dengan lain jenis dan bukan muhrimnya di tempat yang sepi (berkhalwat).
    2. Bertindak dan/atau bersikap negatif dengan maksud untuk merugikan pimpinan, dosen, karyawan, ataupun sesama mahasiswa.

 

                                                              Pasal  4                           

TATA TERTIB LINGKUNGAN

 

  1. Mahasiswa diwajibkan :
    1. Segera mengerjakan shalat setelah azan dikumandangkan, kecuali ada udzur.
    2. Mengakhiri semua kegiatan di kampus apabila sudah memasuki pukul 18.00 WIB, kecuali ada izin dari Pimpinan STKIP MPL.
    3. Menjaga kebersihan, keindahan, ketertiban, keamanan dan ketenangan kampus.
    4. Membuang sampah di tempat yang telah disediakan.
    5. Memarkir kendaraan di tempat yang telah ditentukan.
  2. Mahasiswa dilarang :
    1. Melakukan hal-hal yang dapat merugikan kehormatan dan martabat negara, pemerintah, persyarikatan Muhammadiyah dan nama baik Kampus.
    2. Melakukan perbuatan yang berbau SARA ataupun diskriminatif.
    3. Mengganggu, menghalangi dan bertindak sewenang-wenang terhadap jalannya proses belajar mengajar dan kegiatan akademik lainnya.
    4. Bermalam di kampus tanpa seizin pimpinan STKIP MPL.
    5. Membawa senjata api dan/atau senjata tajam.
    6. Membawa/mengkonsumsi narkotik, obat-obat terlarang dan/atau minuman keras.
    7. Membawa/menikmati barang cetakan atau elektronik yang tergolong pornografi ataupun porno aksi.

 

Pasal  5

SANKSI

Mahasiswa yang melakukan pelanggaran tata tertib di Kampus akan dikenakan sanksi sebagai berikut  :

  1. Sanksi disiplin ringan berupa :
    1. Teguran secara lisan.
    2. Teguran secara tertulis.

 

  1. Sanksi disiplin sedang berupa :
    1. Pembatalan jumlah sks yang diambil mahasiswa dalam satu semester.
    2. Pemberian skorsing selama satu atau dua semester
    3. Tidak bisa diusulkan menerima beasiswa dan/atau mahasiswa berprestasi serta tidak memperoleh layanan lainnya.
  2. Sanksi disiplin berat berupa :

Pencabutan statusnya sebagai mahasiswa dan dikeluarkan dari STKIP MPL.

 

Pasal  6

 

Hal-hal yang belum diatur dalam keputusan ini akan diatur kemudian.

Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dengan ketentuan akan diperbaiki kembali sebagaimana mestinya apabila dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapan ini.

 

 

DITETAPKAN  DI    :  PRINGSEWU

PADA TANGGAL    :  16 Syawal    1435   H

12 Agustus   2014  M

KETUA,

 

 

                                 Drs. H. A. Rahman, M.M, M.Pd.

                                 NIP 19560312 1986101001

Byadmin

JURNAL FOKUS KONSELING

Jurnal ini berisi tentang gagasan konseptual, hasil penelitian, kajian dan aplikasi teori Bimbingan dan Konseling, dan tulisan praktis serta terbaru mengenai perkembangan Bimbingan dan Konseling. Terbit secara berkala dua kali dalam setahun di bulan Januari dan Agustus.

http://ejournal.stkipmpringsewu-lpg.ac.id/index.php/fokus

 

Byadmin

The CounselingModel through Cognitive RestructuringTechniques toImproveSelf-Efficacy of Underachiever Students

Oleh:

Edy Irawan, S.Pd., M.Pd.

irawan_yde@yahoo.co.id

STKIP Muhammadiyah Pringsewu Lampung

Mujiyati, S.Pd., M.Pd.

muji_sof1@yahoo.com

STKIP Muhammadiyah Pringsewu Lampung

Sofwan Adiputra, M.Pd., Kons.

sofwanputra@yahoo.co.id

STKIP Muhammadiyah Pringsewu Lampung

ABSTRACT

 

The research is based on the problems the students who have learning difficulties, low value, less accustomed to reading books, collecting delay task, the students who have high intelligence (underachiever students). Self-efficacy is an individual’s belief about his ability to perform tasks or actions needed to achieve a particular result. Underachiever students should be able to improve themselves when they have high self-efficacy. This study is purposed to improve self-efficacy of underachiever students through cognitive restructuring techniques in counseling. This study uses a quantitative approach. The method used is research and development. The research samples were underachiever studentswho have low self-efficacy in eleven grade at the high school Pagelaran academic year of 2013/2014. The results showed that the counseling model through cognitive restructuring techniques empirically proven to effectively improve self-efficacy of underachiever students.

 

Keywords: CognitiveRestructuringTechniques, Self-efficacy, Underachiever

 

Prosiding Konvensi Nasional  BK XVIII

Denpasar Bali, 14 s.d 16 November 2013

Profesi Konseling Bermartabat dalam Masyarakat Multikultural dan Modern


PENDAHULUAN

Pendidikan berfungsi dan bertanggung jawab sebagai wahana untuk mengembangkan individu agar dapat mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan beserta cara mendapatkannya (learning to know), belajar berkarya (learning to do), belajar mengembangkan diri (learning to be), dan belajar hidup berdampingan dengan yang lain secara harmonis (learning to live together). Pendidikan seyogianya ditujukan untuk mengembangkan individu-individu kreatif, yaitu individu yang dapat merumuskan ide-ide baru dan karya-karya orisinal yang lebih hidup serta fleksibel dalam berpikir dan bertindak untuk menyongsong perubahan-perubahan dalam lingkungan yang mengancam keberlangsungan hidup individu maupun masyarakat. Kesemua itu bermuara pada pencapaian tujuan pendidikan nasional yang termaktub dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No. 20 tahun 2003.

Pendidikan bertujuan menyiapkan siswa menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik yang dapat menerapkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Pendidikan harus memberikan dampak  positif bagi kehidupan masyarakat dan kebudayaan nasional (Depdikbud, 1992: 149). Pernyataan tersebut menyiratkan arti pendidikan yang merupakan unsur penting dalam membangun masyarakat, kebudayaan dan perkembangan bangsa.

Penegasan dari tujuan pendidikan, dalam UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Th. 2003 ayat 1 yang berbunyi: pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara”

Salah satu kata kunci dari definisi pendidikan di atas adalah mengembangnya potensi siswa.Peran pendidikan adalah memfasilitasi menjadi prestasi.Fasilitas tersebut ditunjukkan agar individu mengenali, menemukan, dan mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Usaha dalam mengembangkan potensi individu dalam pendidikan dapat dilakukan dengan mengacu pada dua komponen utama yaitu, kurikulum program pendidikan dan proses pembelajaran. Proses pembelajaran merupakan usaha strategis untuk mewujudkan tujuan pendidikan, karena di dalamnya terdapat program dan aktivitas belajar untuk memfasilitasi siswa dalam mencapai perkembangan yang optimal, yaitu situasi di mana siswa telah dapat  mengaktualisasikan potensi-potensi yang terdapat di dalam dirinya.

Salah satu indikator pencapaian keberhasilan belajar siswa dapat dilihat dari prestasi yang didapatkan, karena prestasi belajar siswa merupakan manifestasi dari perubahan sebagai hasil dari proses belajar. Namun demikian, tidak semua siswa dapat mencapai prestasi sesuai dengan potensi yang dimiliki, banyak di antara siswa tidak menampilkan hasil optimal.

Proses belajar yang dilakukan siswa di sekolah pada kenyataannya dipengaruhi oleh berbagai faktor, sehingga hasil belajar yang dicapai akan sangat tergantung pada interaksi dari berbagai faktor yang saling terkait antara satu dengan yang lainya. Inteligensi merupakan salah satu faktor yang diprediksikan sebagai penyebab utama dalam pencapaian prestasi belajar siswa oleh karena itu tingkat inteligensi sering digunakan untuk meramalkan kemampuan dalam belajar serta prestasi yang akan diraih siswa.

Dalyono (Djamarah, 2002:160) menyebutkan secara tegas bahwa seseorang yang memiliki inteligensi baik (IQ-nya tinggi) umumnya mudah dalam belajar dan hasilnya cenderung baik, sebaliknya orang yang inteligensinya rendah, cenderung mengalami kesukaran dalam belajar, lambat berpikir, dan prestasi yang rendah.

Kenyataan di sekolah banyak dijumpai, diantaranya siswa-siswa yang memiliki masalah kesulitan belajar, berupa nilai-nilai yang rendah, gagal ujian, kurang teliti dalam menyimpan perlengkapan pelajaran, kurang terbiasa membaca buku, sering terlambatan mengumpulkan tugas dan sebagainya.umumnya siswa-siswa tersebut mempunyai intelegensi yang tinggi, karena tidak didukung oleh faktor lainya siswa-siswa tersebut tidak mendapatkan hasil belajar yang sesuai dengan potensinya. Siswa-siswa tersebut tergolong pada siswa berprestasi kurang (dalam hal ini adalah siswa underachiever), yaitu siswa yang memperoleh hasil belajar di bawah standar nilai yang diukur berdasarkan kriteria IQ.intelegensi tertentu.

Jumlah siswa yang tidak menampilkan prestasi sesuai dengan potensinya di setiap sekolah mungkin belum dapat diketahui dengan pasti, tetapi hal yang cukup mengejutkan dapat dilihat dari beberapa hasil penelitian berikut.Amerika Serikat diperkirakan jumlah siswa yang tidak menampilkan prestasi sesuai dengan potensinya berkisar antara 15 sampai 50% (Marland, dalam Sulistiana, 2009), sedangkan di Inggris jumlahnya mencapai 25% (Pringle, dalam Whitemore, 1980).

Hasil penelitian Surya (1978: 142) mengenai siswa berprestasi rendah menunjukkan bahwa dari 78 orang siswa yang tergolong memiliki kemampuan tinggi terdapat 32 orang atau sekitar (41%) siswa berprestasi rendah. Data hasil penelitian tersebut menggambarkan walaupun jumlah siswa berprestasi kurang sangat bervariasi, namun diyakini bahwa siswa yang mendapatkan prestasi akademik yang tidak sesuai dengan potensinya akan selalu tampak dalam setiap sekolah.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa tinggi rendahnya potensi siswa tidak memberikan jaminan siswa tersebut dapat mengaktualisasikannya dengan baik, dalam konteks psikologi dan bimbingan konseling fenomena tersebut dikenal dengan istilah underachiever.Surya (1983: 73) mengemukakan bahwa underachiever adalah siswa yang memiliki potensi tergolong tinggi tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah atau dibawah rata-rata potensi yang dimilikinya.

Rimm (2000:218) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan underachiever adalah kemampuan anak dijabarkan dengan skor IQ yang diperoleh siswa, sedangkan prestasi sekolah dijabarkan dalam bentuk nilai tes hasil belajar. Untuk  mengidentifikasi underachieverdidasarkan keriteria perkembangan antara IQ dengan proses perbandingan mata pelajaran dibawah rata-rata kelompok (total/kelasnya masing-masing).

Underachiever merupakan suatu masalah yang sangat kompleks dalam dunia pendidikan.Underachiever mengarah pada keterkaitan dari berbagai faktor yang melatarbelakanginya.Natawidjaja (1999: 1) mengemukakan bahwa terdapat dua faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa yaitu faktor internal dan faktor eksternal.Faktor internal dalam belajar adalah faktor-faktor yang ada pada individu yang mencakup inteligensi atau kecerdasan, kepribadian, bakat, motivasi, metode belajar, serta kebiasaan belajar, sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi belajar pada individu yaitu lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.Kebiasaan belajar merupakan faktor yang dimungkinkan dapat mempengaruhi hasil belajar siswa.

Secara teoritis dapat dinyatakan bahwa siswa yang mempunyai tingkat intelegensi normal bisa memperoleh hasil belajar yang baik jika ia mempunyai kebiasaan belajar yang baik dan lingkungan sekitarnya memberikan pengaruh yang positif. Sebaliknya, jika siswa yang memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi tidak didukung dengan kebiasaan belajar yang baik maka tidak menutup kemungkinan akan mendapat hasil belajar yang kurang memuaskan.

Selanjutnya yang menjadi bahan kajian peneliti adalah tentang fenomena dilapangan yang di dapat melalui observasi dan wawancara pra-penelitian kepada beberapa guru pembimbing, didapatkan bahwa siswa underachiever cenderung memiliki permasalahan pada self-efficacy yang dimiliki. Hal ini dapat terlihat dari kurang adanya keyakinan diri siswa terkait permasalahan belajar, dan sosial. Siswa terkadang merasa tidak mampu terhadap suatu mata pelajaran tanpa adanya usaha untuk memperbaiki diri. Sehingga di peroleh pemahaman bahwa siswa sebenanrnya mampu namun mereka kurang yakin dengan apa yang mereka miliki. Begitu juga dalam hal sosial, siswa memiliki rasa minder jika mereka dihadapkan dengan perlombaan atau kegiatan yang melibatkan sekolah lainnya. Sehingga terlihat ketidakyakinan terhadap kemampuan yang dimilikinya. Maka peneliti menyimpulkan bahwa self efficacy yang ada pada diri siswa underachiever merupakan salah satu aspek self-knowledge atau pengetahuan tentang diri yang mengalami gangguan.

Bandura (Ghufron, 2010: 73) menyatakan bahwa self efficacy adalah keyakinan individu mengenai kemampuan dirinya dalam melakukan tugas atau tindakan yang diperlukan untuk mencapai hasil  tertentu. Jadi self efficacy menekankan kepada aspek keyakinan diri dalam melakukan tindakan tugas dan tindakan dimana seharusnya siswa dapat melakukan sebuah tindakan dari apa yang dimilikinya.

Berdasarkan pendapat tersebut peneliti mencoba menggunakan salah satu pendekatan yaitu konseling kognitif perilaku.Guindon (2010: 30) mengatakan bahwa konseling kognitif-perilaku adalah pendekatan yang paling umum yang digunakan untuk mengintervensi masalah keyakinan diri dan terbukti efektif dalam mengatasi masalah keyakinan diri pada individu di seluruh rentang hidup. Sebagai contoh, beberapa teknik dalam konseling kognitif-perilaku, seperti: teknik relaksasi, teknik restrukturisasi kognitif, modelling, kemampuan belajar dan pelatihan instruksional diri, serta keterampilan mengurangi kecemasan dapat meningkatkan keyakinan diri pada tes akademik dalam belajar siswa baik penyandang cacat maupun bagi siswa yang normal.

Faktor utama yang menyebabkan keyakinan yang rendah terhadap kekuatan pikiran/ketidak-berfungsian pikiran, hal itu didapatkan dari –salah satunya– perlakuan orang tua yang bersikap melecehkan pikiran dan persepsi anak dan pada akhirnya berdampak kumulatif pada perkembangan anak, sehingga individu membuat putusan-putusan dini yang salah, seperti keyakinan bahwa dirinya tidak layak, tidak berarti, tidak berdaya, dan tidak memiliki kemampuan (Branden, 1981: 12). Hal ini sejalan dengan tujuan restrukturisasi kognitif, yaitu mengajak konseli untuk menentang pikiran dan emosi yang salah dengan menampilkan bukti-bukti yang bertentangan dengan keyakinan mereka tentang masalah yang dihadapi.

Teknik restrukturisasi kognitif mengidentifikasi gangguan emosional (emotional disorder)dengan mencari emosi negatif, pikiran otomatis dan keyakinan utama (Bond & Dryden, 2004: 32). Konselor diharapkan mampu:

  1. memberikan bukti bagaimana sistem keyakinan dan pikiran otomatis sangat erat hubungannya dengan emosi dan tingkah laku, dengan cara menolakpikiran negatif secara halus dan menawarkan pikiran positif sebagai alternatifuntuk dibuktikan bersama. Dengan kata lain, membantu konseli untuk mencari keyakinan yang sifatnya dogmatis dalam diri konseli dan secara kuat mencoba untuk menguranginya.
  2. memperoleh komitmen konseli untuk melakukan modifikasi secaramenyeluruh, mulai dari pikiran, perasaan sampai tindakan, dari negatif menjadipositif.

Berdasarkan pemaparan dan fenomena yang ada di lapangan tersebut maka peneliti mencoba untuk mengembangkan model konseling dengan teknik restrukturisasi kognitif untuk meningkatkan self efficacy siswa underachiverkelas XI SMA Negeri 1 Pagelaran Tahun Ajaran 2013/2014.

Tujuan penelitian yaitu mengungkap dan menganalisis tingkat self efficacy siswa underachiever,terumuskannya model konseling restrukturisasi kognitif secara hipotetik dapat meningkatkan self efficacy siswa underachiever, serta mengetahui seberapa besarkeefektifan model konseling restrukturisasi kognitif dalam meningkatkan self efficacy siswa underachieverkelas XI SMA Negeri 1 Pagelaran Tahun Ajaran 2013/2014.

 

 

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan (reseach and development). Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan model konseling kelompok dengan teknik restrukturisasi kognitif untuk meningkatkan self efficacy siswa underachiever.

Menurut Borg and Gall (2003: 231) penelitian dan pengembangan adalah ”… a process used to develop and validate educational product”. Produk yang dimaksud adalah model konseling kelompok dengan teknik restrukturisasi kognitif untuk meningkatkan self efficacy siswa underachiever. Borg and Gall (2003: 569) lebih lanjut mengemukakan langkah-langkah yang seyogianya ditempuh dalam penelitian dan pengembangan, meliputi: (1) studi pendahuluan; (2) perencanaan; (3) pengembangan model hipotetik; (4) penelaahan model hipotetik; (5) revisi; (6) ujicoba terbatas; (7) revisi hasil ujicoba; (8) uji coba lebih luas; (9) revisi model akhir; (10) desiminiasi dan sosialiasasi.

Analisis terhadap kebutuhan dilakukan untuk mengembangkan model hipotetik dengan menggunakan metode eksperimen pretest-post test control groupdesign. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif yang digunakan secara bersamaan melalui pendekatan mixed methodology design (Creswell, 2010: 342). Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengkaji tingkat self efficacy siswa underachiever dan menguji tingkat efektivitas model konseling restrukturisasi kognitif untuk  meningkatkanself efficacy siswa underachiever. Pendekatan kualitatif digunakan untuk mengetahui validitas rasional model hipotetik konseling  restrukturisasi kognitif untuk meningkatkan self efficacy siswa underachiever.

Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas XI SMA Negeri 1 Pagelaran Tahun Ajaran 2013/2014 yang berjumlah 233 orang.Sampel penelitian adalah siswa underachiever yang memiliki self efficacy rendah. Setelah dilakukan pretest diketahui bahwa siswa underachiever yang memiliki self efficacy rendah sebanyak 20 orang, yang kemudian dibagi menjadi dua kelompok, yaitu 10 orang untuk kelompok eksperimen dan 10 orang untuk kelompok kontrol.

Pada tataran pelaksanaan dilakukan teknis berupa metode analisis deskriptif dilakukan untuk pendataan konseling restrukturisasi secara faktual, akurat, mengenai fakta-fakta, dan sifat-sifat terkait dengan substansi penelitian.Melakukan analisis self efficacy siswa underachiever, faktor pengaruh self efficacy siswa underachiever, dan upaya yang dilakukan siswa untuk meningkatkan self efficacy siswa underachiever.

Metode partisipatif kolaboratif dalam proses uji kelayakan model hipotetik konseling restrukturisasi kognitif untuk meningkatkan self efficacy siswa underachiever. Uji kelayakan model dilakukan dengan uji rasional uji keterbacaan, uji kepraktekan dan uji coba terbatas.Uji rasional melibatkan 3 orang pakar didalam bimbingan dan konseling, uji keterbacaan melibatkan 10 siswa underachiever.uji kepraktikan dilaksanakan melalui diskusi terfokus dengan melibatkan guru BK di SMA Negeri 1 Pagelaran yang dijadikan objek penelitian. Dan motode eksperimen dengan menguji coba model hipotetik konseling restrukturisasi kognitif untuk meningkatkan self efficacy siswa underachiever.

 

Hasil Penelitian

Hasil pengumpulan data terhadap 233 siswa kelas XI SMA Negeri 1 Pagelaran Tahun Ajaran 2013/2014 menunjukkan gambaran umum self efficacy siswa underachiever yang tersaji pada Tabel 1 sebagai berikut :

 

Tabel 1. Gambaran Umum Self efficacy siswa Kelas XI

No. Skor Kategori F Persentase
1 X < 52 Rendah 46 19,74 %
2  52 ≤  X < 182 Sedang 152 65,24 %
3 X ≤ 182 Tinggi 35 15,02 %
Jumlah 233 100 %

 

Berdasarkan hasil penelitian diketahui sebanyak 19,74% atau 46 siswa kelas XI SMA Negeri 1 Pagelaran Tahun Ajaran 2013/2014 memiliki self efficacy rendah. Sebanyak 65,24% atau 152 siswa memiliki self efficacy sedang dan sebanyak 15,02% atau 35 siswa memiliki self efficacy tinggi.

 

Tabel 2. Gambaran Umum Self Efficacy Siswa Underachiever

Skor IQ Siswa Hasil Belajar SkorSE Tingkat SE Jumlah Siswa
110 – 119 50 – 65 X < 52 Rendah 18
120 – 129 50 – 70 X < 52 Rendah 2
Jumlah 20

 

Tabel 2 menunjukkan bahwa siswa yang memiliki skor IQ antara 110 – 119 (tergolong di atas rata-rata) dan hasil belajar yang dicapai antara 50 – 65 dengan skor self efficacy< 52 berjumlah 18 orang, sedangkan 2 orang siswa lainnya memiliki skor IQ antara 120 – 129 yang tergolong superior, tetapi hasil belajar yang dicapainya-pun kurang maksimal, yaitu antara 50 – 70. Secara teoritis jika dilihat dari skor IQ seharusnya siswa tersebut mampu mencapai hasil belajar yang maksimal.tetapi pada kenyataannya tidak. Hal ini disebabkan oleh tingkat keyakinan diri (self efficacy) yang rendah pada siswa yang merasa tidak mampu mengerjakan tugas meskipun memiliki IQ di atas rata-rata atau bahkan tergolong superior.

 

Tabel 3.Peningkatan Self Efficacy SiswaUnderachiever

Kelas Mean Hasil thitung Hasilttabel Sig.(2-tailed)
Eksp 0,2713 5,317 1, 734 0,000
Kontrol 0,2311

 

 

Hasil perhitungan pada Tabel 3 menunjukkan nilai thitung sebesar 5,317 dengan tingkat sig.(2-tailed) = 0,000; dengan df = 18, sehingga nilai ttabel = 1,734 pada taraf signifikansi (α = 0,05). Dari hasil perhitungan menunjukkan bahwa thitung ≥ ttabel, yaitu 5,317 ≥ 1,734.Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa model konseling melalui teknik restrukturisasi kognitif efektif untuk meningkatkan self efficacy siswa underachiever kelas XI SMA Negeri 1 Pagelaran Tahun Ajaran 2013/2014.

 

PEMBAHASAN

Berdasarkan paparan Tabel 1 menunjukkan bahwa kecenderungan self efficacy siswakelas XI SMA Negeri 1 Pagelaran Tahun Ajaran 2013/2014 berada pada kategori sedang dengan persentase 65,24%, sedangkan siswa lainnya dengan persentase 15,02 % dan 19,74 % berada pada kategori tinggi dan rendah. Hal tersebut dapat diartikan bahwa siswa kurang mampu dalam mengembangkan self efficacy-nya.Artinya, siswa belum mampu memiliki keyakinan yang kuat terhadap kemampuan yang dimilikinya untuk mencapai kesuksesan dan menghadapi rintangan.

Kondisi tersebut bertentangan dengan kondisi ideal yang diharapkan ada pada diri siswa, yaitu memiliki self efficacy yang tinggi. Siswa dengan self efficacy tinggi akan mampu mempengaruhi tindakan orang lain dalam menentukan sikap dan perilaku menjadi adekuat terhadap rintangan-rintangan yang dihadapi. Sebaliknya, siswa dengan self efficacy rendah pada umumnya kurang termotivasi dan tidak melakukan usaha keras untuk mencapai apa yang diinginkannya sehingga gagal untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Pada Tabel 2 menunjukkan sebanyak 20 orang siswa memiliki IQ di atas rata-rata, tetapi hasil belajar rendah (underachiever). Hal ini disebabkan karena siswa kurang mampu mengembangkan self efficacy-nya secara optimal yang menunjukkan kecenderungan perilaku, seperti: kurang memiliki kemampuan belajar secara rutin tanpa perintah dari orang tua, belajar hanya ketika akan ada ujian, pesimis untuk dapat menyelesaikan setiap tugas sekolahnya dengan baik, malas dan mudah menyerah atau tidak berusaha dalam mengerjakan tugas terutama yang dirasakan sangat sulit,

Menurut Butler-Por (Tarmidi, 2008) mengemukakan beberapa hal yang menyebabkan siswa menjadi underachiever, yaitu: siswa tidak menyadari potensi yang dimilikinya, sehingga kurang memahami dirinya dan orang lain; mempunyai harapan/target yang terlalu rendah, sehingga membuat siswa tidak mempunyai tujuan dan nilai yang jelas; serta mempunyai penilaian diri yang rendah dan menjadi peka terhadap penilaian orang lain.

Senada dengan hal tersebut, Ramadhan (Agustin, 2011) mengemukakan salah satu faktor penyebab siswa underachiever adalah persepsi diri atau penilaian siswa terhadap kemampuan yang dimilikinya.penilaian siswa terhadap kemampuannya berpengaruh banyak terhadap pencapaian prestasi sekolah. siswa yang merasa dirinya mampu akan berusaha untuk mendapatkan prestasi sekolah yang baik sesuai dengan penilaian dirinya terhadap kemampuan yang dimiliki. sebaliknya, anak yang menilai dirinya sebagai anak yang tidak mampu atau anak yang bodoh akan menganggap nilai-nilai rendah yang didapatkannya sebagai hal yang sepatutnya dia dapatkan. Hal tersebut kemudian berimplikasi pada tidak termotivasinya siswa untuk meraih prestasi yang lebih tinggi sesuai dengan potensi yang dimilikinya.Kondisi tersebut mengingatkan kepada para konselor agar dapat memfasilitasi siswa untuk meningkatkan self efficacy.

Pendapat tersebut diperkuat oleh Rimm (1986: 2) yang mengatakan bahwa karakteristik dari siswa underachiever, yaitu buruknya keahlian dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah,  kebiasaan belajar yang buruk,  memiliki masalah penerimaan oleh teman sebaya,  konsentrasi yang buruk dalam aktivitas sekolah, tidak bisa mengatur  dirinya dengan  baik di rumah maupun di sekolah, mudah bosan, ‘”meninggalkan” kegiatan kelas, memiliki kemampuan berbahasa yang baik tetapi buruk dalam menulis,  mudah terdistraksi dan tidak sabaran,  sibuk dengan pikirannya sendiri,  kurang jujur,  sering mengkritik diri sendiri,  mempunyai hubungan pertemanan yang kurang baik, suka bercanda di kelas (membuat keributan), dan berperilaku yang tidak biasa.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa model konseling dengan teknik restrukturisasi kognitif terbukti secara empiris efektif untuk meningkatkan self efficacy siswa underachiever.Hal itu disebabkan karena dalam teknik restrukturisasi kognitif, siswa diberikan latihan-latihan perekaman pikiran dan penguatan secara sistematis yang bisa mengubah penilaian diri siswa underachiever.

Hasil penelitian tersebut, dipertegas oleh Persons, dkk.(Beck, 1995: 32) yang mengatakan bahwa teknik restrukturisasi kognitif merupakan salah satu dari teknik konseling kognitif perilaku yang efektif untuk konseli pada level pendidikan, pekerjaan dan latar belakang yang berbeda.

Menurut Arnold (Beck, 1993: 25) gejala-gejala yang menjadi sasaran intervensi tidak hanya gejala pikiran.Akan tetapi, restrukturisasi kognitif diimplementasikan dengan asumsi penilaian secara kognitif menentukan kondisi emosi.

Beck, dkk. (1995: 14) menjelaskan bahwa bukan situasi atau hal-hal yang ada pada lingkungan yang menentukan perasaan individu, akan tetapi ditentukan oleh bagaimana individu mengkonstruk situasi-situasi yang dihadapinya. Dengan kata lain, kondisi emosi siswa yang memiliki penilaian diri rendah ditentukan oleh konstruk berpikir siswa terhadap penilaian dirinya.

 

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa siswa yang memiliki IQ tinggi tetapi menunjukkan hasil belajar atau prestasi yang rendah disebabkan karena siswa tersebut kurang memiliki keyakinan diri (self efficacy) yang tinggi terhadap potensi yang dimiliki.Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah model konseling melalui latihan-latihan perekaman pikiran (thought record) dan penguatan (reinforcement)yang diberikan secara sistematis terhadap struktur kognitif yang dimiliki siswa.Dan secara empiris model konseling dengan teknik restrukturisasi kognitif terbukti efektif meningkatkan self efficacy siswa underachiever.

 

DAFTAR PUSTAKA

Agustin, Mubiar. (2011). Permasalahan Belajar dan Inovasi Pembelajaran. Bandung: Refika Aditama.

Beck, Aaron T. (1993).Cognitive Therapy: Past, Present, and Future. Jurnal of Consulting and Clinical Psychology. 61, 194-198.

Beck, Judith S. (1995).Cognitive Behavior Therapy. New York: Guilford Press.

Bond, F. W. & Dryden, W. (2004).Handbook of Brief Cognitive Behaviour Therapy. England: John Wiley & Sons Ltd.

Borg, R Walter & Gall.  Meredith  D & Joyce. P (2003). Educational Research. United States Of America : Pearson Education Inc Corporation.

Branden, Nathaniel. (1981). The Psychology of Self Esteem. New York: Bantam Books.

Creswell, John W. 2010. Research Design, Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed.Penerjemah.Ahmad  fawaid. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Depdikbud.(1992). Empat Strategi Dasar Kebijakan Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdikbud.

Djamarah.(2002). Psikologi Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Ghufron, M. Nur dan Risnawita, Rini. 2010. Teori-teori Psikologi. Jogjakarta: Ar-ruz Media.

Guindon, M. H. (2010). Self-Esteem Across Lifespan. New York: Routledge Taylor & Francis Group.

Natawidjaja. (1999). Pedoman Supervisi. Jakarta: Depdiknas.

Rimm, Silvia. B. (1986).Underachievement Syndrome Cause and Curse. Watertovn: Apple Publishing.

(2000). Why Bright Kids Get Poor Grades. Alih bahasa: A Mangunhardjana. Jakarta. Grasindo.

Sulistiana.(2009). Program Bimbingan Belajar Siswa Underachiever.Skripsi PBB FIB Bandung: Tidak diterbitkan.

Surya. (1978). Pengaruh Faktor-Faktor Non-Intelektual Terhadap Gejala Prestasi Kurang. Disertasi FPS IKIP. Bandung. Tidak diterbitkan.

(1983). Psikologi Konseling. Bandung: Pustaka Bani Quraisi.

 

Tarmidi. (2008). Underachiver.[Online]. Tersedia di http://tarmizi.wordpress.com/2008/11/19/underachiver/konsep guru siswa underachiver/(diakses 12 Maret  2012).

Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. (2004). Surabaya: Karina.

 

 

Byadmin

GUIDED IMAGERY: Creative Interventions in Counselling for education

Oleh:
Sofwan Adiputra, M.Pd., Kons.
sofwanputra@yahoo.co.id
STKIP Muhammadiyah Pringsewu Lampung
Drs. Yulianto, M.Pd.
yulianto08@yahoo.com
STKIP Muhammadiyah Pringsewu Lampung

ABSTRACT

Guided imagery is a technique used to change negative thoughts using the imagination to increase self-understanding and delivery his emotions. Imagery is the human ability to process internal and external world without language. If the individual works performed imagination unconsciously, so guided imagenery intentionally trying to drive the imagination to achieve the expected goals. Guided imagery involves five steps, such as: a treatment rationale, assessment of the client’s potential to use imagery, development of imagery scenes, practice of imagery scenes, and homework. One of the most interesting about imagery is that almost anyone can use it. Imagery skips across the barriers of education, class, race, gender and age – a truly equal opportunity intervention.

Keywords : guided imagery, creative counseling, the imagination.

© 2013 Published by Panitia Kongres XII dan Konvensi Nasional BK XVII

PENDAHULUAN

Konseling merupakan suatu proses pemberian bantuan yang dilakukan konselor kepada klien untuk dapat mengatasi permasalahan yang ada pada diri klien. Hasilnya diharapkan timbul suatu perilaku baru yang bisa menjadi patokan diri klien untuk bertindak kemana selanjutnya klien melangkah. Konseling adalah proses dimana pemberian bantuan yang dilakukan konselor bukan hanya sekali, melainkan suatu tindakan yang saling terhubung dan terus menerus hingga tuntas permasalahan yang ada pada diri klien. Dari proses panjang inilah yang menjadi dasar sebuah pemikiran perlu adanya sebuah kreativitas yang lebih menarik yang bisa digunakan konselor sebagai salah satu alternatif untuk mengatasi kejenuhan yang mungkin dapat timbul dari dalam diri klien terhadap pelaksanaan konseling yang membutuhkan lebih dari sekali pertemuan. Dan juga mampu meningkatkan keefektivan dalam proses konseling

KREATIFITAS DALAM KONSELING

Menurut levis (dalam Shertzer & Stone, 1980) konseling adalah suatu proses dimana terdapat interaksi antara klien dan konselor yang bertujuan untuk membantu klien merasa dan berperilaku lebih baik dengan memberikan informasi dan stimulus yang merangsang terjadinya perilaku yang lebih efektif pada dirinya dan lingkunganya. Proses hubungan antara klien dan konselor sangat penting terhadap keberhasilan konseling (Hansen, 1970). Dan yang harus di perhatikan bahwa jika kita tidak mampu membuat hubungan yang baik maka akan menimbulkan respon-respon emosional terhadap klien karena yang mereka menceritakan kepedihan dan masalah yang rumit (Geldard, 2008).

Menurut Jacobs (dalam Rahmadian, 2011) terdapat 7 kesalahan yang umum dilakukan konselor yang menyebabkan sesi konseling menjadi membosankan dan tidak efektif, yaitu:

1. Melakukan terlalu banyak refleksi.

2. Mendengarkan terlalu banyak cerita konseli.

3. Jarang menginterupsi konseli.

4. Tidak fokus dalam sesi konseling.

5. Menunggu terlalu lama untuk melakukan fokus atau funnel

6. Tidak menggunakan teori konseling, menggunakan “hope method” dalam konseling

7. Jarang menggunakan alat bantu yang kreatif dan tidak bersifat multisensori.

Dalam proses konseling diperlukan sebuah kreatifitas yang mampu membuat klien merasa nyaman dengan tahapan pelaksanaan konseling, karena konseling kreatif dapat meningkatkan efektivitas konseling (Glading, 2008). Konseling kreatif merupakan suatu pendekatan konseling yang unik (Conte, 2009). Karena menurut Glading (dalam Smith, 2011) pendekatan kreatif dalam konseling menawarkan sebuah energi baru pada klien untuk dapat meningkatkan sensitivitas pada dirinya dan orang lain.

Meskipun kreativitas merupakan hal yang esensial dalam proses konseling, namun proses kreatif tidak terjadi secara otomatis, konselor perlu memfasilitasi terciptanya suasana yang aman dan mendukung sehingga klien mampu secara kreatif mengkaji maslah , membangun perspektif alternatif terhadap masalah, serta menghasilkan dan mengevaluasi beragam pilihan solusi masalah (Rahmadian, 2011). Yang pada akhirnya konseling kreatif memberikan peluang kepada klien untuk membawa pemikiran dan perasaan kepada kesadaran melalui pengekspresian diri di berbagai jalan (Saputra, 2013).

Menurut Glading (dalam Rahmadian, 2011) terdapat tiga faktor yang mendorong berkembanganya kreativitas dalam konseling, yaitu: faktor kepribadian konselor dan klien, faktor proses konseling, dan faktor hasil konseling. Faktor kepribadian merujuk pada kapasitas konselor untuk bersikap terbuka dan kesediaan bermain dengan ide dan pendekatan baru, kerja keras, dan keberanian konselor mengambil resiko yang terukur.

GUIDED IMEGERY : INTERVENSI KREATIF DALAM PENDIDIKAN

Istilah guided imagery berkembang seiring dengan perkembangan teori dan praktek konseling yang menempatkan klien pada pusat proses terapi (Hall, 2006) perkembangan ini berjalan seiring dengan adanya perkembangan tekhnologi psikologi dengan terobosan baru. Furgeson (dalam Hall, 2006) tekhnik imegery diadopsi secara luas dengan perkembangan terapi baru yang mengangap proses berbicara tidak cukup dalam merangsang klien melakukan perubahan perilaku.

Dalam perkembangannya imajinasi seringkali di artikan sama dengan fantasi, padahal itu merupakan hal yang berbeda karena semua imajinasi merupakan fantasi namun tidak semua fantasi imajinasi (Hell, 2006). Pada fantasi tidak menjadikan perilaku realistis dan rasional dalam memberi gambaran. Menurut Segal (dalam Hell, 2006) yang menjadikan imajinasi itu berbeda dengan fantasi adalah adanya pengalaman internal dan eksternal yang dipahami.

Kebutuhan untuk mencari makna memunculkan imajinasi simbolis yang menggunakan prilaku non-verbal pada otak manusia. (Hall,2006) dan klien dipandu untuk dapat fokus pada fikiran positif dan mengarahkan pada imajinasi-imajinasi kejadian negatif yang dialami. Menurut (Cormier, 2009) dalam penggunaan prosedur guided imagery klien dipandu untuk fokus pada fikiran positif atau gambar yang menyenangkan sambil membanyangkan situasi yang tidak nyaman atau menimbulkan kecemasan-kecemasan. Klien diarahkan untuk dapat memblokir hal-hal negatif dengan memanfaatkan ketidak fokusan emosi antara perasaan senang dengan kejadian yang tidak menyenangkan.

Pada pelaksanaan guided imagery konselor diarahkan untuk dapat bertindak sebagai fasilitator atau pemandu yang menyediakan klien gambaran imajinasi positif yang akan diciptakan (Hall,2006). Proses ini dirasakan bisa dilaksanakan dengan maksimal mengingat fakta bahwa hampir semua manusia normal mampu mengembangkan visualisasi yang ada dalam diri yang melibatkan seluruh tubuh, emosi dan panca indra (Elizabet, 2000) . Menurut Overholser (dalam Cormier, 2009) penggunaan visualisaisi dalam pelatihan releksasi dapat meciptaan respon fisiologis sebagai pengalaman aktual yang mengencangkan atau mengendurkan otot. Proses ini akan banyak melibatkan panca indera dalam menvisualisasikan gambaran imajinasinya baik hanya satu panca indera atau keseluruhan panca indera seperti, pendengaran, rasa, bau, sentuhan, keseimbangan panas, dingin dan nyeri, serta penglihatan (Hall, 2006)

Menurut (Cormier,2006) proses guided imagery mencakup lima langkah, yaitu (1). Dasar pelaksanaan intervensi , (2). penilaian potensi klien untuk menggunakan imajinasi, (3). pengembangan imajinasi, (4). latihan imajinasi, dan (5). pekerjaan rumah.

1. Rasionalisasi intervensi

Seseorang sering kali memiliki banyak kecemasan sebelum mereka melakukan sesuatu. Hal ini diangap normal dan alami, mengingat keyakinan mengintensifkan kecemasan ketika akan mengalami sesuatu prilaku yang tidak biasa. Ketika ketidak nyamanan terjadi maka sikap cemas akan semakin meningkat. Maka guided imagery bisa dilakukan dengan mengvisualisasikan adegan atau kegiatan yang menyenangkan sehingga klien merasa santai dengan kegiatan yang akan dijalankannya. Klien tidak akan mampu memiliki emosi cemas dan rileks pada saat yang bersamaan karena kedua emosi itu berbeda dan tidak dapat menyatu dalam situasi yang bersamaan.

2. Penilaian potensi klien untuk menggunakan imajinasi

Dalam guided emagery Keberhasilan guided imagery tergantung jumlah perasaan positif dan ketenangan yang ditimbulkan melalui visualisasi klien. Konselor dapat mengukur tingat visualisasi klien melalui laporan quisener diri, dan hasil latihan narasi yang dilakukan klien.

3. Pengembangan Imajinasi

Jika dirasa klien mampu untuk melakukan intervensi ini, maka selanjutnya konselor mempersiapkan setidaknya dua skenario yang dapat menimbulkan perasaan tenang pada diri klien. Skenario dibuat harus sesuai nilai budaya yang relevan pada diri klien dengan memperhatikan kenyamanan klien. Misalnya: apakah klien akan merasa nyaman jika skenario yang buat mengarahkan klien berimajinasi berada di daerah pegungungan atau malah akan menakutkan klien karena klien takut ketinggian misalnya.

4. Latihan Imajinasi

Setelah imajinasi dikembangkan klein diarahkan untuk berlatih menggunakannya. Ada dua jenis praktek yang bisa dilakukan. pertama, klien diintruksikan untuk fokus pada imajinasi selama 30 detik, membayangka semua detil skenario yang digambarkan dengan mencoba merasakan semua sensasi yang ada. Setelah waktu habis klien diarahkan untuk membayangkan kejadian yang yang menimbulkan rasa cemas. Kedua, konselor menjelaskan sebuah skenario menyenangkan dengan penjelasan deskripsi yang mencemaskan, sehingga perilaku yang awalnya membuat kecemasan dapat dihilangkan.

5. Pekerjaan rumah dan tindak lanjut

Konselor menginstruksikan klien untuk menerapkan skenario imajinasi dirumah. Klien dapat mencatat reaksi sebelum dan sesudah penggunaan guided imagery dengan menggunakan Skala 5. Angka 1 untuk ketidaknyamanan minimum dan angka 5 untuk ketidaknyamanan maksimum. Klien diberitahukan untuk membawa hasil catatan pada sesi konseling berikutnya.

Sedangkan menurut (Hall, 2006) terdapat beberapa pedoman dasar dalam membantu mengintervensi klien secara verbal dalam guided imagery ini antara lain:
1. Pada awal pelaksanaan bimbingan imajinasi hindari terlalu banyak intervensi karena dengan terlalu banyaknya pertanyaan dan saran akan memberikan kesan bahwa konselor ingin mengontrol proses konseling
2. Hindari pertanyaan “mengapa !” Pertanyaan mengapa terkesan seperti menginterogasi dan akan membuat klien sulit untuk memaparkan keadaan dirinya.
3. Ajukan pertanyaan “apa yang baik” dan “apa yang buruk” menurut pendapat klien. Hal ini dapat membuat proses intervensi mengarah kepada kebutuhan klien.
4. Klien diarahkan untuk menggunakan kata “Aku”. Harapannya klien mampu menimbulkan perilaku asertif pada diri. Perilaku yang dilakukan dan dikatakan adalah tanggung jawab pribadi.
5. “Bagaimana perasaan ada ?”. Klien memiliki kecenderungan untuk menghindari berbicara secara langsung tentang perasaan
6. Gunakan kata-kata yang tepat dalam melakukan refleksi. Hindari menggunakan kaliamat analogi yang mampu membuat persepsi ganda pada diri dlien.

PENGGUNAAN GUIDED IMEGERY PADA SETING PENDIDIKAN

Salah satu hal yang paling menarik dari guided imagery bahwa hampir semua orang bisa menggunakan imajinasi. Intervensi ini memiliki peluang keberhasilan yang sama tanpa memperhatikan tingkat pendidikan, ras, kelas, jenis kelamin, dan usia (Elizabet, 2000). Walaupun pada kenyataannya wanita dan anak-anak memiliki imajinasi yang lebih baik dibandingkan dengan lainnya.

Berdasarkan kajian badan penelitian dan pengembangan kementerian pendidikan kebudayaan (Badudu, 2012) menyatakan ujian Nasional membuat sebagian besar siswa mengalami rasa cemas. Hal ini tentu akan membuat dampak dari pribadi siswa mengenai ujian nasional. Ketika rasa cemas semakin dibiarkan tentu saja akan membuat peningkatan permasalahan negatif pada siswa. Akibatnya siswa mencoba menggunakan kecurangan dalam ujian seperti mencontek, ketika hasil tidak maksimal siswa melakukan tindakan bunuh diri. Prilaku siswa sebelum ujian cemas, ujian cemas, menunggu penggumuman cemas. (Virdahani, 2013)

Guided imagery merupakan salah satu intervensi konseling yang bisa di gunakan untuk membantu menggurangi kecemasan terhadap ujian nasional pada anak. Pada Guided imagery teknik yang digunakan diarahkan untuk mengubah pikiran negatif dengan menggunakan imajinasi dalam pemahaman diri dan penyaluran emosi (Elizabet, 2000).

PENUTUP
Dalam proses konseling diperlukan sebuah kreatifitas yang mampu membuat klien merasa nyaman dengan tahapan pelaksanaan konseling, karena konseling kreatif dapat meningkatkan efektivitas konseling. Meskipun kreativitas merupakan hal yang esensial dalam proses konseling, namun proses kreatif tidak terjadi secara otomatis, konselor perlu memfasilitasi terciptanya suasana yang aman dan mendukung sehingga klien mampu secara kreatif mengkaji masalah, membangun perspektif alternatif terhadap masalah, serta menghasilkan dan mengevaluasi beragam pilihan solusi masalah. Guided imagery merupakan salah satu teknik yang digunakan untuk mengubah pikiran negatif dengan menggunakan imajinasi untuk meningkatkan pemahaman diri dan penyaluran emosi seperti menggikuti ujian nasional.

DAFTAR PUSTAKA

Badudu, Ananda. (2012) ujian nasional terbukti membuat siswa SMA cemas. Diakses tanggal 10 Oktober 2013. Dari http://www.tempo.co/read/news/2012/04/19/079398285/Ujian-Nasional-Terbukti-Membuat-Siswa-SMA-Cemas
Cormer, Sherry., Nurius, Paula S., Osborn, Osbon J, Chinthia. Interviewing and Change Strategies for Helpers: Fundamental Skills and Cognitive Behavioral Interventions, Sixth Edition. Belmont : Brooks/Cole cangage learning.
Cristian, Conte. (2009). Advanced Techniques for Counseling and Psychotherapy. New York : Springer Publishing Company.

Elizabath. (2000). Why is Guided Imagery? Diakses tanggal 10 Oktober 2013. Dari http://www.healthjourneys.com/what_is_guided_imagery.asp.
Geldard, Kathryn., Geldard, David. (2003). Membantu memecahkan masalah orang lain dengan teknik konseling. Alih bahasa : Agung Prihantoro. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Gladding, Samuel T. (2008). “The Impact of Creativity in Counseling”. Journal of Creativity in Mental Health. 3, (2).

Hall, Eric., Hall, Caroll. (2006). guided imagery : Creative Interventions in Counselling & Psychotherapy. London: SAGE Publications.
Hansen, James C., Stevic, Richard R., Warner, Richard W. (1977). Counseling : Theory and Process. Boston : Allyn and Bacon.

Shertzer, Bruce & Stone, Shelley C. (1980). Fundamental of Counseling (Third Ed). Boston : Houghton Mifflin Company.

Virdhani, Merieska Harya. (2013) Komnas Anak Kawal Kasus Siswa Gantung Diri karena UN. Diakses tanggal 10 Oktober 2013. Dari http://jakarta.okezone.com/read/2013/05/23/501/811182/redirect.