GUIDED IMAGERY: Creative Interventions in Counselling for education

Oleh:
Sofwan Adiputra, M.Pd., Kons.
sofwanputra@yahoo.co.id
STKIP Muhammadiyah Pringsewu Lampung
Drs. Yulianto, M.Pd.
yulianto08@yahoo.com
STKIP Muhammadiyah Pringsewu Lampung

ABSTRACT

Guided imagery is a technique used to change negative thoughts using the imagination to increase self-understanding and delivery his emotions. Imagery is the human ability to process internal and external world without language. If the individual works performed imagination unconsciously, so guided imagenery intentionally trying to drive the imagination to achieve the expected goals. Guided imagery involves five steps, such as: a treatment rationale, assessment of the client’s potential to use imagery, development of imagery scenes, practice of imagery scenes, and homework. One of the most interesting about imagery is that almost anyone can use it. Imagery skips across the barriers of education, class, race, gender and age – a truly equal opportunity intervention.

Keywords : guided imagery, creative counseling, the imagination.

© 2013 Published by Panitia Kongres XII dan Konvensi Nasional BK XVII

PENDAHULUAN

Konseling merupakan suatu proses pemberian bantuan yang dilakukan konselor kepada klien untuk dapat mengatasi permasalahan yang ada pada diri klien. Hasilnya diharapkan timbul suatu perilaku baru yang bisa menjadi patokan diri klien untuk bertindak kemana selanjutnya klien melangkah. Konseling adalah proses dimana pemberian bantuan yang dilakukan konselor bukan hanya sekali, melainkan suatu tindakan yang saling terhubung dan terus menerus hingga tuntas permasalahan yang ada pada diri klien. Dari proses panjang inilah yang menjadi dasar sebuah pemikiran perlu adanya sebuah kreativitas yang lebih menarik yang bisa digunakan konselor sebagai salah satu alternatif untuk mengatasi kejenuhan yang mungkin dapat timbul dari dalam diri klien terhadap pelaksanaan konseling yang membutuhkan lebih dari sekali pertemuan. Dan juga mampu meningkatkan keefektivan dalam proses konseling

KREATIFITAS DALAM KONSELING

Menurut levis (dalam Shertzer & Stone, 1980) konseling adalah suatu proses dimana terdapat interaksi antara klien dan konselor yang bertujuan untuk membantu klien merasa dan berperilaku lebih baik dengan memberikan informasi dan stimulus yang merangsang terjadinya perilaku yang lebih efektif pada dirinya dan lingkunganya. Proses hubungan antara klien dan konselor sangat penting terhadap keberhasilan konseling (Hansen, 1970). Dan yang harus di perhatikan bahwa jika kita tidak mampu membuat hubungan yang baik maka akan menimbulkan respon-respon emosional terhadap klien karena yang mereka menceritakan kepedihan dan masalah yang rumit (Geldard, 2008).

Menurut Jacobs (dalam Rahmadian, 2011) terdapat 7 kesalahan yang umum dilakukan konselor yang menyebabkan sesi konseling menjadi membosankan dan tidak efektif, yaitu:

1. Melakukan terlalu banyak refleksi.

2. Mendengarkan terlalu banyak cerita konseli.

3. Jarang menginterupsi konseli.

4. Tidak fokus dalam sesi konseling.

5. Menunggu terlalu lama untuk melakukan fokus atau funnel

6. Tidak menggunakan teori konseling, menggunakan “hope method” dalam konseling

7. Jarang menggunakan alat bantu yang kreatif dan tidak bersifat multisensori.

Dalam proses konseling diperlukan sebuah kreatifitas yang mampu membuat klien merasa nyaman dengan tahapan pelaksanaan konseling, karena konseling kreatif dapat meningkatkan efektivitas konseling (Glading, 2008). Konseling kreatif merupakan suatu pendekatan konseling yang unik (Conte, 2009). Karena menurut Glading (dalam Smith, 2011) pendekatan kreatif dalam konseling menawarkan sebuah energi baru pada klien untuk dapat meningkatkan sensitivitas pada dirinya dan orang lain.

Meskipun kreativitas merupakan hal yang esensial dalam proses konseling, namun proses kreatif tidak terjadi secara otomatis, konselor perlu memfasilitasi terciptanya suasana yang aman dan mendukung sehingga klien mampu secara kreatif mengkaji maslah , membangun perspektif alternatif terhadap masalah, serta menghasilkan dan mengevaluasi beragam pilihan solusi masalah (Rahmadian, 2011). Yang pada akhirnya konseling kreatif memberikan peluang kepada klien untuk membawa pemikiran dan perasaan kepada kesadaran melalui pengekspresian diri di berbagai jalan (Saputra, 2013).

Menurut Glading (dalam Rahmadian, 2011) terdapat tiga faktor yang mendorong berkembanganya kreativitas dalam konseling, yaitu: faktor kepribadian konselor dan klien, faktor proses konseling, dan faktor hasil konseling. Faktor kepribadian merujuk pada kapasitas konselor untuk bersikap terbuka dan kesediaan bermain dengan ide dan pendekatan baru, kerja keras, dan keberanian konselor mengambil resiko yang terukur.

GUIDED IMEGERY : INTERVENSI KREATIF DALAM PENDIDIKAN

Istilah guided imagery berkembang seiring dengan perkembangan teori dan praktek konseling yang menempatkan klien pada pusat proses terapi (Hall, 2006) perkembangan ini berjalan seiring dengan adanya perkembangan tekhnologi psikologi dengan terobosan baru. Furgeson (dalam Hall, 2006) tekhnik imegery diadopsi secara luas dengan perkembangan terapi baru yang mengangap proses berbicara tidak cukup dalam merangsang klien melakukan perubahan perilaku.

Dalam perkembangannya imajinasi seringkali di artikan sama dengan fantasi, padahal itu merupakan hal yang berbeda karena semua imajinasi merupakan fantasi namun tidak semua fantasi imajinasi (Hell, 2006). Pada fantasi tidak menjadikan perilaku realistis dan rasional dalam memberi gambaran. Menurut Segal (dalam Hell, 2006) yang menjadikan imajinasi itu berbeda dengan fantasi adalah adanya pengalaman internal dan eksternal yang dipahami.

Kebutuhan untuk mencari makna memunculkan imajinasi simbolis yang menggunakan prilaku non-verbal pada otak manusia. (Hall,2006) dan klien dipandu untuk dapat fokus pada fikiran positif dan mengarahkan pada imajinasi-imajinasi kejadian negatif yang dialami. Menurut (Cormier, 2009) dalam penggunaan prosedur guided imagery klien dipandu untuk fokus pada fikiran positif atau gambar yang menyenangkan sambil membanyangkan situasi yang tidak nyaman atau menimbulkan kecemasan-kecemasan. Klien diarahkan untuk dapat memblokir hal-hal negatif dengan memanfaatkan ketidak fokusan emosi antara perasaan senang dengan kejadian yang tidak menyenangkan.

Pada pelaksanaan guided imagery konselor diarahkan untuk dapat bertindak sebagai fasilitator atau pemandu yang menyediakan klien gambaran imajinasi positif yang akan diciptakan (Hall,2006). Proses ini dirasakan bisa dilaksanakan dengan maksimal mengingat fakta bahwa hampir semua manusia normal mampu mengembangkan visualisasi yang ada dalam diri yang melibatkan seluruh tubuh, emosi dan panca indra (Elizabet, 2000) . Menurut Overholser (dalam Cormier, 2009) penggunaan visualisaisi dalam pelatihan releksasi dapat meciptaan respon fisiologis sebagai pengalaman aktual yang mengencangkan atau mengendurkan otot. Proses ini akan banyak melibatkan panca indera dalam menvisualisasikan gambaran imajinasinya baik hanya satu panca indera atau keseluruhan panca indera seperti, pendengaran, rasa, bau, sentuhan, keseimbangan panas, dingin dan nyeri, serta penglihatan (Hall, 2006)

Menurut (Cormier,2006) proses guided imagery mencakup lima langkah, yaitu (1). Dasar pelaksanaan intervensi , (2). penilaian potensi klien untuk menggunakan imajinasi, (3). pengembangan imajinasi, (4). latihan imajinasi, dan (5). pekerjaan rumah.

1. Rasionalisasi intervensi

Seseorang sering kali memiliki banyak kecemasan sebelum mereka melakukan sesuatu. Hal ini diangap normal dan alami, mengingat keyakinan mengintensifkan kecemasan ketika akan mengalami sesuatu prilaku yang tidak biasa. Ketika ketidak nyamanan terjadi maka sikap cemas akan semakin meningkat. Maka guided imagery bisa dilakukan dengan mengvisualisasikan adegan atau kegiatan yang menyenangkan sehingga klien merasa santai dengan kegiatan yang akan dijalankannya. Klien tidak akan mampu memiliki emosi cemas dan rileks pada saat yang bersamaan karena kedua emosi itu berbeda dan tidak dapat menyatu dalam situasi yang bersamaan.

2. Penilaian potensi klien untuk menggunakan imajinasi

Dalam guided emagery Keberhasilan guided imagery tergantung jumlah perasaan positif dan ketenangan yang ditimbulkan melalui visualisasi klien. Konselor dapat mengukur tingat visualisasi klien melalui laporan quisener diri, dan hasil latihan narasi yang dilakukan klien.

3. Pengembangan Imajinasi

Jika dirasa klien mampu untuk melakukan intervensi ini, maka selanjutnya konselor mempersiapkan setidaknya dua skenario yang dapat menimbulkan perasaan tenang pada diri klien. Skenario dibuat harus sesuai nilai budaya yang relevan pada diri klien dengan memperhatikan kenyamanan klien. Misalnya: apakah klien akan merasa nyaman jika skenario yang buat mengarahkan klien berimajinasi berada di daerah pegungungan atau malah akan menakutkan klien karena klien takut ketinggian misalnya.

4. Latihan Imajinasi

Setelah imajinasi dikembangkan klein diarahkan untuk berlatih menggunakannya. Ada dua jenis praktek yang bisa dilakukan. pertama, klien diintruksikan untuk fokus pada imajinasi selama 30 detik, membayangka semua detil skenario yang digambarkan dengan mencoba merasakan semua sensasi yang ada. Setelah waktu habis klien diarahkan untuk membayangkan kejadian yang yang menimbulkan rasa cemas. Kedua, konselor menjelaskan sebuah skenario menyenangkan dengan penjelasan deskripsi yang mencemaskan, sehingga perilaku yang awalnya membuat kecemasan dapat dihilangkan.

5. Pekerjaan rumah dan tindak lanjut

Konselor menginstruksikan klien untuk menerapkan skenario imajinasi dirumah. Klien dapat mencatat reaksi sebelum dan sesudah penggunaan guided imagery dengan menggunakan Skala 5. Angka 1 untuk ketidaknyamanan minimum dan angka 5 untuk ketidaknyamanan maksimum. Klien diberitahukan untuk membawa hasil catatan pada sesi konseling berikutnya.

Sedangkan menurut (Hall, 2006) terdapat beberapa pedoman dasar dalam membantu mengintervensi klien secara verbal dalam guided imagery ini antara lain:
1. Pada awal pelaksanaan bimbingan imajinasi hindari terlalu banyak intervensi karena dengan terlalu banyaknya pertanyaan dan saran akan memberikan kesan bahwa konselor ingin mengontrol proses konseling
2. Hindari pertanyaan “mengapa !” Pertanyaan mengapa terkesan seperti menginterogasi dan akan membuat klien sulit untuk memaparkan keadaan dirinya.
3. Ajukan pertanyaan “apa yang baik” dan “apa yang buruk” menurut pendapat klien. Hal ini dapat membuat proses intervensi mengarah kepada kebutuhan klien.
4. Klien diarahkan untuk menggunakan kata “Aku”. Harapannya klien mampu menimbulkan perilaku asertif pada diri. Perilaku yang dilakukan dan dikatakan adalah tanggung jawab pribadi.
5. “Bagaimana perasaan ada ?”. Klien memiliki kecenderungan untuk menghindari berbicara secara langsung tentang perasaan
6. Gunakan kata-kata yang tepat dalam melakukan refleksi. Hindari menggunakan kaliamat analogi yang mampu membuat persepsi ganda pada diri dlien.

PENGGUNAAN GUIDED IMEGERY PADA SETING PENDIDIKAN

Salah satu hal yang paling menarik dari guided imagery bahwa hampir semua orang bisa menggunakan imajinasi. Intervensi ini memiliki peluang keberhasilan yang sama tanpa memperhatikan tingkat pendidikan, ras, kelas, jenis kelamin, dan usia (Elizabet, 2000). Walaupun pada kenyataannya wanita dan anak-anak memiliki imajinasi yang lebih baik dibandingkan dengan lainnya.

Berdasarkan kajian badan penelitian dan pengembangan kementerian pendidikan kebudayaan (Badudu, 2012) menyatakan ujian Nasional membuat sebagian besar siswa mengalami rasa cemas. Hal ini tentu akan membuat dampak dari pribadi siswa mengenai ujian nasional. Ketika rasa cemas semakin dibiarkan tentu saja akan membuat peningkatan permasalahan negatif pada siswa. Akibatnya siswa mencoba menggunakan kecurangan dalam ujian seperti mencontek, ketika hasil tidak maksimal siswa melakukan tindakan bunuh diri. Prilaku siswa sebelum ujian cemas, ujian cemas, menunggu penggumuman cemas. (Virdahani, 2013)

Guided imagery merupakan salah satu intervensi konseling yang bisa di gunakan untuk membantu menggurangi kecemasan terhadap ujian nasional pada anak. Pada Guided imagery teknik yang digunakan diarahkan untuk mengubah pikiran negatif dengan menggunakan imajinasi dalam pemahaman diri dan penyaluran emosi (Elizabet, 2000).

PENUTUP
Dalam proses konseling diperlukan sebuah kreatifitas yang mampu membuat klien merasa nyaman dengan tahapan pelaksanaan konseling, karena konseling kreatif dapat meningkatkan efektivitas konseling. Meskipun kreativitas merupakan hal yang esensial dalam proses konseling, namun proses kreatif tidak terjadi secara otomatis, konselor perlu memfasilitasi terciptanya suasana yang aman dan mendukung sehingga klien mampu secara kreatif mengkaji masalah, membangun perspektif alternatif terhadap masalah, serta menghasilkan dan mengevaluasi beragam pilihan solusi masalah. Guided imagery merupakan salah satu teknik yang digunakan untuk mengubah pikiran negatif dengan menggunakan imajinasi untuk meningkatkan pemahaman diri dan penyaluran emosi seperti menggikuti ujian nasional.

DAFTAR PUSTAKA

Badudu, Ananda. (2012) ujian nasional terbukti membuat siswa SMA cemas. Diakses tanggal 10 Oktober 2013. Dari http://www.tempo.co/read/news/2012/04/19/079398285/Ujian-Nasional-Terbukti-Membuat-Siswa-SMA-Cemas
Cormer, Sherry., Nurius, Paula S., Osborn, Osbon J, Chinthia. Interviewing and Change Strategies for Helpers: Fundamental Skills and Cognitive Behavioral Interventions, Sixth Edition. Belmont : Brooks/Cole cangage learning.
Cristian, Conte. (2009). Advanced Techniques for Counseling and Psychotherapy. New York : Springer Publishing Company.

Elizabath. (2000). Why is Guided Imagery? Diakses tanggal 10 Oktober 2013. Dari http://www.healthjourneys.com/what_is_guided_imagery.asp.
Geldard, Kathryn., Geldard, David. (2003). Membantu memecahkan masalah orang lain dengan teknik konseling. Alih bahasa : Agung Prihantoro. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Gladding, Samuel T. (2008). “The Impact of Creativity in Counseling”. Journal of Creativity in Mental Health. 3, (2).

Hall, Eric., Hall, Caroll. (2006). guided imagery : Creative Interventions in Counselling & Psychotherapy. London: SAGE Publications.
Hansen, James C., Stevic, Richard R., Warner, Richard W. (1977). Counseling : Theory and Process. Boston : Allyn and Bacon.

Shertzer, Bruce & Stone, Shelley C. (1980). Fundamental of Counseling (Third Ed). Boston : Houghton Mifflin Company.

Virdhani, Merieska Harya. (2013) Komnas Anak Kawal Kasus Siswa Gantung Diri karena UN. Diakses tanggal 10 Oktober 2013. Dari http://jakarta.okezone.com/read/2013/05/23/501/811182/redirect.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *