Uncategorized

Byadmin

Kode Etik Dosen STKIP Muhammadiyah Pringsewu

SURAT KEPUTUSAN

STKIP MPL

Nomor  : 076/KEP./II.3/AU/D/2014

Tentang

KODE ETIK DOSEN STKIP MPL

 

Bissmillahirrahmanirrahim

Ketua Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Muhammadiyah Pringsewu Lampung (STKIP MPL)

Menimbang:

  1. Bahwa untuk mewujudkan tujuan Pendidikan Muhammadiyah dipandang perlu menetapkan kode etik dosen STKIP MPL.
  2. Bahwa kode etik dosen STKIP MPL sebagaimana tersebut dalam ketetapan ini dapat dijadikan pedoman dalam melaksanakan tugas.

Mengingat:

  1. UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003
  2. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999;
  3. Qaidah Perguruan Tinggi Muhammadiyah.
  4. Statuta STKIP MPL.
  5. Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah No.47 /KEP./I.O/D/2013

 

 

MEMUTUSKAN

Menetapkan:

Keputusan Ketua STKIP MPL Nomor  076/KEP./II.3/AU/D/2014 tentang

 

KODE  ETIK  DOSEN

STKIP MPL

 

MUKADIMAH

 

Bahwasanya Muhammadiyah adalah gerakan amar ma’ruf nahi munkar yang bertujuan untuk mewujudkan masyarakat utama di negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Muhammadiyah menyelenggarakan pendidikan tinggi yang bertujuan untuk menghasilkan sarjana muslim yang beriman, bertakwa, untuk diabdikan kepada kesejahteraan umat manusia.

 

Dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi, dosen menempati posisi yang sangat strategis dan menentukan. Oleh karena itu, untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut di atas maka Majelis Pendidikan Tinggi menetapkan kode etik dosen STKIP MPL.

 

BAB    I

KEPRIBADIAN DOSEN STKIP MPL

 

Pasal  1

Kepribadian Dosen STKIP MPL adalah

 

  1. Beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.
  2. Berjiwa Pancasila dan taat pada UUD 1945.
  3. Berkepribadian Muhammadiyah.
  4. Berpengetahuan luas.
  5. Berpendidikan pascasarjana atau berkemampuan akademik yang sederajat, sehingga mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya dan seikhlas-ikhlasnya sebagai rangkaian untuk mencapai tujuan Persyarikatan Muhammadiyah.

 

BAB  II

TANGGUNG JAWAB DOSEN STKIP MPL

 

Pasal  2

Tanggung Jawab Sebagai Dosen STKIP MPL

  1. Menghayati dan mengamalkan ilmu yang dimiliki disertai konsistensi dalam satu kata dengan perbuatan.
  2. secara terus-menerus meningkatkan diri dalam penguasaan ilmu pengetahuan.
  3. menegakkan akhlakul karimah secara konsisten pada diri sendiri dan mahasiswa.
  4. tidak takabur dengan ilmu yang dimilikinya dan tidak meremehkan kemampuan orang lain, termasuk mahasiswa.
  5. senantiasa membina hubungan baik dengan sejawat dan tidak mnyimpang dari norma-norma agama dan susila.
  6. menjaga martabat dan nama baik diri sendiri, keluarga serta STKIP MPL dan Persyarikatan sesuai dengan aturan dan etika yang ada.

 

Pasal  3

Tanggung Jawab dalam Bidang Pengajaran

  1. Senantiasa melaksanakan amanat dan tanggung jawab untuk mengembangkan potensi mahasiswa secara maksimal.
  2. Dalam melaksanakan perkuliahan, dosen akan menyampaikan materi paling tidak sebagaimana tercantum dalam kurikulum dan silabi serta senantiasa meng-up date materi perkuliahan.
  3. Dosen STKIP MPL menguasai materi yang harus disampaikan kepada mahasiswa dan mempersiapkan perkuliahan dengan sebaik-baiknya.
  4. Dosen STKIP MPL menyampaikan materi dengan senantiasa mengindahkan prinsip-prinsip perkuliahan sebagaimana ditentukan lembaga.
  5. Dosen STKIP MPL dalam melaksanakan perkuliahan senantiasa bersifat terbuka, responsive, dan menghargai kreativitas mahasiswa.

 

Pasal  4

Tanggung Jawab dalam Bidang Penelitian

 

  1. Melakukan penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya dan Persyarikatan Muhammadiyah pada khususnya.
  2. Tidak mempublikasikan hasil penelitian yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat atau kegoncangan negara, sehingga merugikan pada masyarakat pada umumnya dan persyarikatan pada khususnya.
  3. Melaksanakan penelitian dengan senantiasa menjunjung tinggi integritas akademik dan penuh tanggung jawab untuk mengembangkan ilmu pengetahun demi kesejahteraan bangsa serta negara pada umumnya, dan warga Persyarikatan Muhammadiyah pada khususnya.

 

Pasal 5

Tanggung Jawab dalam Bidang Pengabdian pada Masyarakat

 

  1. Senantiasa mengabdikan ilmunya bagi kesejahteraan masyarakat pada umumnya dan Persyarikatan Muhammadiyah pada khususnya.
  2. Senantiasa bisa dijadikan suri teladan bagi masyarakat pada umumnya dan anggota profesi pada khususnya.

BAB  III

DEWAN PENGAWAS KODE ETIK

 

Pasal 6

Kelembagaan Pengawas Kode Etik

Untuk mengawasi pelaksanaan kode etik dosen STKIP MPL, perlu disusun Dewan Kehormatan Kode Etik di Tingkat Pusat.

  1. Anggota Dewan Kehormatan Kode Etik ditujukan oleh Majelis Pendidikan Tinggi untuk masa kerja 5 tahun.
  2. Ketua dewan kehormatan kode etik ditentukan oleh anggota pada rapat pertama badan pengawas kode etik.

 

Pasal  7

Mekanisme Kerja

 

  1. Dewan kehormatan kode etik membahas kasus pelanggaran kode etik atas dasar laporan atau pengaduan.
  2. Keputusan dewan kehormatan kode etik diambil dengan suara terbanyak.

 

Pasal 8

Sanksi

 

  1. Sanksi yang diambil oleh dewan kehormatan kode etik adalah bisa berupa:
    1. Peringatan atau teguran tertulis.
    2. Skorsing untuk jangka waktu tertentu.
    3. Skorsing untuk jangka waktu tidak terbatas.
    4. Pemecatan sebagai dosen STKIP MPL.

 

BAB  IV

KETENTUAN PERALIHAN

 

Pasal  9

Semua ketentuan yang mengatur mengenai kode etik dosen STKIP MPL yang telah ada pada saat ditetapkannya Keputusan ini dinyatakan tidak berlaku.

BAB  V

PENUTUP

 

Pasal  10

Hal-hal yang belum diatur dalam Keputusan ini akan diatur lebih lanjut dalam ketentuan-ketentuan tersendiri.

 

 

Pasal  11

Keputusan ini dapat ditinjau kembali apabila dipandang perlu.

 

Pasal  12

Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan agar semua orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pemberitahuan keputusan ini dengan penempatannya dalam warta STKIP MPL, dengan ketentuan bahwa apabila ternyata dikemudian hari terdapat kekeliruan atau perkembangan baru, maka akan ditinjau kembali dan akan diperbaiki sebagaimana mestinya.

 

DITETAPKAN  DI    :  PRINGSEWU

PADA TANGGAL    :  16 Syawal    1435   H

12 Agustus   2014  M

KETUA,

 

                                 Drs. H. A. Rahman, M.M, M.Pd.

                                 NIP 19560312 1986101001

 

Byadmin

SURAT KEPUTUSAN KETUA STKIP MPL Tentang TATA TERTIB MAHASISWA STKIP MPL

SURAT KEPUTUSAN

KETUA STKIP MPL

Nomor  : 073/KEP./II.3/AU/F/2014

Tentang

TATA TERTIB MAHASISWA  STKIP MPL

Bissmillahirrahmanirrahim

Ketua STKIP MPL

Menimbang  :

  1. Bahwa untuk menyiapkan peserta didik menjadi sarjana muslim, yang mempunyai kemampuan akademik dan/atau professional dan beramal menuju terwujudnya masyarakat utama adil dan makmur yang diridhoi oleh Allah SWT, perlu Tata Tertib.
  2. Bahwa untuk memenuhi maksud tersebut, dipandang perlu untuk menetapkan tata tertib mahasiswa STKIP MPL,

Mengingat  :

  • Undang–Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003
  • Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 1999
  • Surat Keputusan Mendiknas Nomor : 184/U/2001.
  • Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah.
  • Qaidah Perguruan Tinggi Muhammadiyah.
  • Statuta STKIP MPL.
  • Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah No.47 /KEP./I.O/D/2013

 

MEMUTUSKAN

Menetapkan  :

SURAT KEPUTUSAN

KETUA STKIP MPL TENTANG TATA TERTIB MAHASISWA

STKIP MPL

 

Pasal  1

TATA TERTIB AKADEMIK

  1. Mahasiswa diwajibkan :
    1. Menaati peraturan akademik yang berlaku;
    2. Mengembangkan sikap dan perilaku ilmiah;
    3. Mengikuti kuliah, praktikum dan tugas-tugas akademik lainnya.
    4. Dengan dipimpin dosen atau tidak, mengawali kuliah dan kegiatan akademik lainnya, dengan membaca basmalah dan diakhiri membaca hamdalah.
    5. Menggunakan kebebasan akademik secara bertanggung jawab sesuai dengan norma dan susila yang berlaku melalui prosedur yang telah ditetapkan;
    6. Dalam mengikuti kegiatan kuliah antara putra dan putri menempatkan diri pada tempat duduk dalam deretan yang terpisah.
  2. Mahasiswa dilarang :
    1. Terlambat masuk kuliah dan/atau meninggalkan kuliah sebelum berakhir tanpa izin/pemberitahuan.
    2. Berbuat curang dalam ujian dan tugas-tugas akademik lainnya.
    3. Merokok di ruang kelas, ruang praktikum dan ruang kantor.

 

Pasal  2

TATA TERTIB PENAMPILAN

 

  1. Mahasiswa diwajibkan :
    1. Berbusana Islami, rapi, sopan dan menutup aurat.
    2. Bertata rias rapi, sopan, tidak mencolok dan tidak berlebihan.
    3. Berpakaian rapi dan bersepatu.
  2. Mahasiswa dilarang :
    1. Memakai kaos oblong, dan atau celana dengan lutut terbuka.
    2. Memakai aksesoris yang tidak semestinya (misalnya, laki-laki menggunakan asesoris khusus perempuan).
    3. Memelihara rambut panjang melebihi bahu (bagi laki-laki).
    4. Memakai sandal, dalam ruang kuliah atau memasuki kantor.

 

Pasal  3

TATA TERTIB PERGAULAN

 

  1. Mahasiswa diwajibkan :
    1. Mengembangkan tata pergaulan yang Islami.
    2. Menggunakan salam dalam pergaulan
    3. Bertutur kata, bersikap dan bertingkah laku harus sopan dan Islami.
    4. Bersikap dan berperilaku hormat kepada pimpinan, dosen, karyawan dan sesama mahasiswa.

 

  1. Mahasiswa dilarang :
    1. Berduaan dengan lain jenis dan bukan muhrimnya di tempat yang sepi (berkhalwat).
    2. Bertindak dan/atau bersikap negatif dengan maksud untuk merugikan pimpinan, dosen, karyawan, ataupun sesama mahasiswa.

 

                                                              Pasal  4                           

TATA TERTIB LINGKUNGAN

 

  1. Mahasiswa diwajibkan :
    1. Segera mengerjakan shalat setelah azan dikumandangkan, kecuali ada udzur.
    2. Mengakhiri semua kegiatan di kampus apabila sudah memasuki pukul 18.00 WIB, kecuali ada izin dari Pimpinan STKIP MPL.
    3. Menjaga kebersihan, keindahan, ketertiban, keamanan dan ketenangan kampus.
    4. Membuang sampah di tempat yang telah disediakan.
    5. Memarkir kendaraan di tempat yang telah ditentukan.
  2. Mahasiswa dilarang :
    1. Melakukan hal-hal yang dapat merugikan kehormatan dan martabat negara, pemerintah, persyarikatan Muhammadiyah dan nama baik Kampus.
    2. Melakukan perbuatan yang berbau SARA ataupun diskriminatif.
    3. Mengganggu, menghalangi dan bertindak sewenang-wenang terhadap jalannya proses belajar mengajar dan kegiatan akademik lainnya.
    4. Bermalam di kampus tanpa seizin pimpinan STKIP MPL.
    5. Membawa senjata api dan/atau senjata tajam.
    6. Membawa/mengkonsumsi narkotik, obat-obat terlarang dan/atau minuman keras.
    7. Membawa/menikmati barang cetakan atau elektronik yang tergolong pornografi ataupun porno aksi.

 

Pasal  5

SANKSI

Mahasiswa yang melakukan pelanggaran tata tertib di Kampus akan dikenakan sanksi sebagai berikut  :

  1. Sanksi disiplin ringan berupa :
    1. Teguran secara lisan.
    2. Teguran secara tertulis.

 

  1. Sanksi disiplin sedang berupa :
    1. Pembatalan jumlah sks yang diambil mahasiswa dalam satu semester.
    2. Pemberian skorsing selama satu atau dua semester
    3. Tidak bisa diusulkan menerima beasiswa dan/atau mahasiswa berprestasi serta tidak memperoleh layanan lainnya.
  2. Sanksi disiplin berat berupa :

Pencabutan statusnya sebagai mahasiswa dan dikeluarkan dari STKIP MPL.

 

Pasal  6

 

Hal-hal yang belum diatur dalam keputusan ini akan diatur kemudian.

Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dengan ketentuan akan diperbaiki kembali sebagaimana mestinya apabila dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapan ini.

 

 

DITETAPKAN  DI    :  PRINGSEWU

PADA TANGGAL    :  16 Syawal    1435   H

12 Agustus   2014  M

KETUA,

 

 

                                 Drs. H. A. Rahman, M.M, M.Pd.

                                 NIP 19560312 1986101001

Byadmin

JURNAL FOKUS KONSELING

Jurnal ini berisi tentang gagasan konseptual, hasil penelitian, kajian dan aplikasi teori Bimbingan dan Konseling, dan tulisan praktis serta terbaru mengenai perkembangan Bimbingan dan Konseling. Terbit secara berkala dua kali dalam setahun di bulan Januari dan Agustus.

http://ejournal.stkipmpringsewu-lpg.ac.id/index.php/fokus

 

Byadmin

KONSELING ADALAH PELAYANAN

Pelayanan adalah tindakan yang sifat dan arahnya menuju kepada kondisi lebih baik yang membahagiakan bagi pihak yang dilayani. Siapapun juga yang hendak atau bahkan sedang melayani seseorang atau subjek lainnya pastilah berkehendak agar orang atau subjek yang dilayaninya itu mengarah atau menjadi lebih baik/bahagia daripada kondisinya sebelumnya. Dengan kata lain, orang yang sedang dilayani memiliki prospek untuk menjadi lebih baik, lebih bahagia. Bukanlah namanya pelayanan kalau di dalamnya tidak ada arah untuk lebih baik atau lebih membahagiakan bagi yang dilayani.

Konsep Dasar Pelayanan
Konsep tentang pelayanan dapat ditarik dari pemahaman yang sangat mendasar, yaitu bagaimana manusia memperoleh pelayanan yang luar biasa dari Tuhan Yang Maha Esa, dan bagaimana manusia harus melayani diri sendiri dan orang-orang di luar dirinya.
Tuhan Sang Maha Pencipta “melayani” manusia sejak penciptaan manusia itu sendiri, orang perorang. Melalui kenikmatan hubungan suami istri yang sedang melakukan kegiatan saling melayani, Tuhan menciptakan janin di perut seorang ibu. Dengan kondisi pelayanan yang penuh dan luar biasa, janin itu menjadi bayi yang akhirnya terlahir menjadi seorang anak. Melalui pelayanan yang luar biasa pula anak yang baru lahir itu dibesarkan oleh ibu/ayah kandungnya dan orang-orang lain di sekitarnya. Maka berkat pelayanan, si janin menjadi bayi, menjadi anak, dan menjadi individu dewasa. Selanjutnya, individu dewasa itu pada gilirannya harus mampu memberikan pelayanan, yaitu terutama kepada diri sendiri, dan selebihnya kepada orang lain.

Demikianlah asal-muasal pelayanan yang awal datangnya dari Tuhan Yang Maha Pencipta. Tuhan adalah Zat Yang Maha Melayani manusia dan makhluk-makhluk lain yang diciptakannya. Bukankah seluruh ciptaan Tuhan, dari bumi dan air serta kekayaan alam yang ada di sekitar tempat tinggal manusia orang-perorang itu sendiri sampai dengan segenap isi langit dan benda-benda antariksa adalah seluruhnya untuk manusia? Ya, untuk kebahagiaan orang perorang manusia, dan untuk seluruh umat manusia.
Diyakini bahwa Tuhan menciptakan manusia tidak lain adalah agar manusia itu berbahagia dalam hidupnya di dunia dan akhirat. Bukanlah kehendak Tuhan apabila manusia itu menjadi sengsara atau menderita, atau menjdai mangsa atau korban dari sesuatu yang menjadikan manusia itu tidak bahagia, melainkan hal itu semua karena manusia lalai dalam melayani diri sendiri dan melayani sesamanya. Tuhan telah secara tersurat maupun tersirat, lansung maupun tidak langsung memberikan petunjuk dan peringatan, memperlihatkan jalan lurus/benar dan jalan yang bengkok/salah, menegaskan hukum-hukum yang pasti berlaku, mengingatkan tentang bala yang bisa terjadi apabila petunjuk/jalan lurus/hukum-hukum itu dilanggar. Hebatnya lagi, Tuhanpun menyediakan segala segala bentuk kemungkinan pembebasan atas segala perbuatan manusia yang menyimpang dari segenap pelanggaran itu; termasuk di dalamnya pengampunan yang yang dapat menjadikan manusia kembali fitrah sebagaimana sewaktu dilahirkan. Demikianlah pelayanan yang tiada bertepi dari Tuhan Yang Maha Suci dan Terpuji.
Apa artinya melayani diri sendiri dan melayani sesama? Seseorang yang mengikuti, menerapkan dan menepati petunjuk dan peringatan, serta jalan lurus dan hukum-hukum Tuhan tersebut di atas untuk diri sendiri, agar dirinya tetap hidup dan berkembang, agar dirinya memperoleh manfaat dari apa-apa yang ada pada dirinya sendiri dan alam sekitarnya, dan agar dirinya sejahtera serta bahagia tanpa dosa hidup di dunia dan di akhirat, maka dapat dikatakan orang itu melayani diri sendiri dengan sebaik-baiknya. Semua perbuatan yang sesuai dan menjunjung tinggi segenap petunjuk/jalan lurus/hukum yang ditetapkan (terutama yang ditetapkan oleh Tuhan, dan juga yang ditetapkan oleh manusia sepanjang tidak bertentangan dengan ketetapan Tuhan) merupakan perbuatan yang sifat, arah dan tujuannya adalah melayani diri sendiri.
Sifat, arah dan tujuan melayani orang lain atau melayani sesama sejalan dengan melayani diri sendiri dengan sasaran yang berbeda. Melayani diri sendiri sasarannya adalah aku, sedangkan melayani orang lain sasarannya adalah kamu dan dia. Demikianlah, pelayanan sejati, yang idealnya dapat dilakukan oleh setiap orang, adalah ibarat mata uang dengan dua sisinya yang amat berharga, yaitu pelayanan untuk diri sendiri di satu sisi dan pelayanan kepada orang lain di sisi yang satu lagi. Pelayanan untuk diri sendiri dan untuk orang lain oleh manusia itu semuanya sejalan dengan dan berakar dari pelayanan oleh Tuhan kepada seluruh umat manusia.
Ditilik lebih teliti, dalam pelayanan yang digambarkan di atas, di dalamnya ada cinta. Betapa agung, indah dan tanpa batasnyalah cinta Tuhan kepada manusia dan semua makhluk-Nya. Dalam pelayanan itu melekat erat rasa cinta. Bahkan dapat pula diibaratkan bahwa antara pelayanan dan cinta merupakan dua sisi mata uang. Pelayanan tanpa cinta adalah pelayanan yang tandus atau mungkin tidak tulus, atau pelayanan basa-basi; bukan pelayanan sejati atau pelayaan sebenarnya. Demikian juga, cinta tanpa pelayanan adalah cinta hampa atau cinta yang mengada-ada; bukan cinta sejati atau cinta yang timbul dari lubuk hati.
Pelayanan yang ada cinta di dalamnya memerlukan tindakan bukan sekedar angan-angan ataupun omongan belaka; bahkan tindakan dengan kompetensi yang tinggi atau bahkan tindakan profesional. Luar biasa dan tak terbayangkan, betapa maha sempurnanya “keprofesionalan” Tuhan dalam pelayanan penuh cinta kepada manusia dan makhluk-makhluk lainnya, dalam kondisi seperti bencana gempa dahsyat sekalipun. Coba kita bayangkan, dalam kondisi musibah hebat pun pelayanan yang penuh cinta dari Tuhan Seru Sekalian Alam tidak pernah berkurang kepada manusia.

sumber: Prayitno. 2009. Wawasan Profesional Konseling. Padang: UNP